PAKAI NARKOBA, TAK BEROBAT SEBELUM DITANGKAP ?

PAKAI NARKOBA, TAK BEROBAT SEBELUM DITANGKAP ?


Terhitung mulai Januari hingga September 2017, hampir sepuluh artis ibukota ditangkap polisi karena narkoba. Di antara nama-nama yang ditahan cukup mengejutkan publik, mengingat mereka tidak terlihat sebagai pecandu.

Sebut saja: RR—yang menyembunyikan sabu seberat 0.7 gram di mobilnya; rapper IK—yang tertangkap membawa ganja 1.5 gram dalam tiga linting rokoknya; pesinetron AZ—yang menyimpan bong (alat isap), kristal putih narkoba, dan satu toples daun ganja kering; AMT, anak aktor terkenal, yang tertangkap setelah memesan satu strip pil Happy Five; PA—yang diungkap polisi sebagai pengedar; penyanyi E—yang ternyata sudah kecanduan sejak bangku kuliah; sampai aktor TS yang menyalahgunakan obat karena gangguan tidur.

Masifnya peredaran narkoba harusnya diiringi dengan pemahaman masyarakat mengenai dampaknya. Dengan demikian, kita bisa turut berperan aktif melawannya—bukan malah jadi pesakitan di rumah sakit atau penjara.

Lebih Dekat dengan Narkoba

Menurut BNN, narkotika itu—ketika mengeluarkan definisinya pada tahun 2003—diartikan sebagai zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupuan semi sintetis, yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran serta menimbulkan ketergantungan. Sedangkan psikotropika adalah zat atau obat baik alamiah maupun sintetis non-narkotika, yang “berkhasiat” psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada akivitas mental dan perilaku. Zat adiktif? Ia adalah bahan selain narkotika dan psikotropika, tapi bila digunakan bisa menimbulkan efek kecanduan.

Pemakaian narkoba, sebenarnya, spesifik pada pembiusan atau pengobatan medis. Tidak boleh dipakai sembarangan. Jika dilanggar, narkoba punya risiko menimbulkan ketergantungan fisik dan psikis, yang bila tidak diobati dapat berujung pada kematian.

Narkoba atau tidak, kita dapat melacaknya dari bahan penyusun suatu obat. Jika dalam satu obat terkandung, baik itu zat-zat bentuk murni atau campur, salah satu unsur dari jenis tanaman asal drugs, kita perlu waspada. Tanaman apa aja?

Tanamannya terdiri dari tiga macam, yaitu: tanaman candu, ganja (Canabis Sativa), dan koka (Erythroxylon Coca). Juga dimasukkan dalam kategori narkoba adalah bahan-bahan lain, tidak peduli itu alami atau buatan, yang dipakai buat menggantikan fungsi morfin atau kokain—dan bila disalahgunakan bisa berakibat negatif seperti morfin atau kokain, seperti: pethidina, metadon, dan lain sebagainya.

Bagaimana Narkoba Merusak Tubuh?

Apa saja efek narkoba bagi tubuh manusia?

Satu, halusinogen. Halusinogen adalah efek narkoba yang membuat pemakainya, bila dipakai dalam dosis tertentu, berhalusinasi. Narkoba jenis ini mengubah perasaan, pikiran, rasa sadar dan emosi pemakainya sampai pada tingkatan di mana korban tidak bisa tahu mana yang benar, mana yang palsu, mana yang realita dan mana yang fantasi. Parahnya lagi, sifat racun pada narkoba berefek halusinogen lebih menonjol ketimbang sisi medisnya!

Dua, stimulan. Efek satu ini membuat organ tubuh seseorang seperti otak dan jantung mampu kerja lebih cepat dari biasanya. Pemakai berefek ini akan merasakan tubuhnya lebih kuat, mengurangi rasa ngantuk, perasaannya lebih senang dan gembira, tapi hanya sebentar. Narkoba jenis ini sering dipakai oleh para musisi, selebritis, dan seniman ketika mereka mau manggung atau berkarya. Ada yang bilang dengan efek inilah mereka bisa lebih kreatif dan produktif lebih dari biasanya. 

Tiga, adiktif. Adiktif itu adalah efek ingin lagi, lagi, lagi, lagi, dan lagi. Alias ketagihan! Ada zat tertentu dalam narkoba yang membuat pemakainya tidak berdaya dan terdorong kuat untuk mengonsumsinya di lain kesempatan. Dorongan yang kuat ini bernama: kompulsif. Contoh yang paling mudah adalah rokok. Walau belum diklasifikasikan sebagai percabangan narkoba, rokok, yang katanya mengandung tar (aspal), zat pengawet mayat, sampai bahan bakar roket, jelas bikin orang kecanduan karena mengandung nikotin. Nah, narkoba juga mirip seperti itu. Tak peduli seberapa merusak ia, pemakainya akan ngotot pakai lagi karena merasa benar-benar butuh dengannya. Jika tidak diberi, pemakainya akan merasakan sakit yang amat sangat.

Begitu masuk ke dalam tubuh, narkoba kan merusak sistem saraf (neurologis) kita, jantung dan pembuluh darah (kardiovaskuler), mengakibatkan alergi, eksim, memproduksi banyak nanah, jaringan paru-paru yang keras, kesulitan bernapas,

susah tidur, sakit kepala yang sering, murus-murus, suhu tubuh melewati panas normal, pengecilan liver, melemahnya fungsi hormon reproduksi, hingga bisa tertular hepatitis B dan C, hingga HIV-AIDS.

Menderitanya Sembuh dari Narkoba

Menurut riset Badan Narkotika Nasional atau BNN, negeri kita memiliki 2.9 hingga 3.6 juta orang yang positif kena narkoba. Penelitian, yang sempat dimuat oleh Media Indonesia ini, diasumsikan WHO (World Health Organization) meningkat 10 kali lipat dari yang tertulis. Rasanya tidak berlebihan juga karena angka yang resmi tercatat dalam sebuah penelitian, logikanya, pasti lebih kecil dari angka sebenarnya. Dan, ini penelitian tahun 2007!

Kenapa semakin banyak saja orang, termasuk artis, yang terjebak narkoba? Mereka memilih terus-menerus kecanduan, bukannya mencari jalan keluar.

Selain kurangnya edukasi, kecanduan narkoba memang sulit disembuhkan. Penyebabnya karena pengobatan yang harus dilalui adalah proses yang menyakitkan.

Ambil sampel: ekstasi. Narkoba yang sempat populer gara-gara dikaitkan sama salah satu artis ibukota ini bukan main parahnya dalam hal membuat tubuh menderita. Sebut saja: bertambah cepatnya denyut jantung, tekanan darah meninggi, berkeringat atau kedinginan, muntah, mual, daya ingat terganggu, sampai meningkatnya panas tubuh atau syok jantung hingga pendarahan otak yang menyebabkan kematian.

Pada jenis narkoba opioid, dampak parahnya bersaing ketat dengan ekstasi. Antara lain: lelet dan kacau bila bicara, gangguan mata, liver dan ginjalnya cacat, dan sangat mungkin terkena penyakit infeksi, hepatitis, sampai HIV AIDS—karena seringnya memakai jarum suntik.

Kalau seorang pengguna ingin sembuh, dia harus melewati masa-masa menyakitkan karena putus obat. Sedih memang niat baik harus diganjal dengan risiko sakit—tapi begitulah kalau sampai berurusan sama narkoba. Kembali ke jalan yang benar menjadi hal yang tidak mudah.

Untuk kasus opioid, bila seorang pengguna menghentikan pemakaiannya, ia akan mengalami kram perut dan otot stadium berat, tulang terasa nyeri, diare parah, dilatasi pupil, rinorea lakrimasipiloereksi, demam, termasuk pipotermia dan hipertermia. Gejala-gejala itu akan dirasakan sekitar 6 sampai 8 jam sejak dosis terakhir pemakaian, bagi yang telah menggunakannya rutin selama 1-2 minggu atau saat diberi antagonis narkotik. Rasa sakit menghebat dan sampai di titik paling dahsyatnya di hari kedua atau ketiga, dan baru hilang 7 sampai 10 hari berikutnya. Namun, beberapa penyakit sangat mungkin tetap kamu rasakan selama 6 bulan atau lebih lama dari itu.

Solusinya? Jauhi, jangan sampai mencoba walau sekali. Terlalu banyak risiko yang harus ditanggung untuk masa depan kita sendiri.

 
Kategori: Blog
Tag:
Komentar pada artikel “PAKAI NARKOBA, TAK BEROBAT SEBELUM DITANGKAP ?”

Got something to say?

Kirim Komentar