KENA KANKER SERVIKS , PASTI MENINGGAL?

Kepergian salah seorang artis terkenal di tahun 2017 lalu meninggalkan beragam pesan untuk kita. Bukan hanya pentingnya berbuat baik pada sesama selagi hidup, juga pesan tentang mahalnya menjaga kesehatan. Bagi yang mengikuti kisahnya dari awal hingga hari sang artis mengembuskan napas terakhir, pasti tahu betapa kanker menguras habis keuangan . Konon sang aktris dan penyanyi ini harus menjual berbagai macam barang berharga agar bisa membayar pengobatan.

Tapi, seluruh pengorbanan itu, ditambah semangat nya untuk melalui semua prosedur pengobatan, tetap tidak berhasil membuatnya pulih seperti sedia kala. Apakah ini pertanda kanker serviks tidak bisa disembuhkan? Tidak juga. Ada beberapa keputusan sang aktris yang dapat kita renungkan bersama saat menghadapi kanker serviks.

Terlambat Mengetahui
Kesibukan sebagai artis ibukota, sepertinya, telah membuatnya lupa untuk ambil bagian dalam pap test. Padahal tes ini sangat dianjurkan pada wanita yang telah aktif secara seksual, di usia berapa pun.

Dia sendiri mengaku baru mengetahui dirinya terkena kanker pada tahun 2014. Namun sayangnya, di saat itu, kanker serviksnya telah memasuki stadium 2—sebelum akhirnya diralat menjadi stadium 1B. Apakah ada bedanya?

Ada. Pada stadium 2, kanker serviks telah sampai ukuran 4 cm pada jaringan leher rahim dan menyebar hingga jaringan vagina bagian atas. Sedangkan pada stadium 1B, kanker memang mulai meluas, tapi masih dalam jaringan mulut rahim. Bentuknya kadang bisa dilihat, kadang tidak.

Keterlambatan mengetahui ini membuat sang artis tidak bisa menempuh operasi radical trachelectomy. Padahal, prosedur ini efektif membebaskan pasien dari kanker melalui tindakan bedah. Dokter langsung menyingkirkan sel kanker yang terdapat pada leher rahim, jaringan sekitarnya, dan bagian atas dari vagina. Dengan begitu sel kanker tidak merambat ke bagian lain.

“Wah, bahaya dong! Kalau rahimnya diangkat, nggak bisa punya anak!”

Pada operasi radical trachelectomy, yang dienyahkan dokter adalah bagian-bagian tertentu yang terkena kanker. Tidak sampai mengangkat rahim seluruhnya. Artinya, pasien tetap bisa punya anak setelah menjalani operasi ini.

Mengambil Risiko
Meski tidak bisa menjalai operasi radical trachelectomy, sebenarnya Artis ini bisa menjalani operasi lainnya—walau konsekuensinya lebih besar. Operasi yang dimaksud adalah operasi histerektomi; pengangkatan rahim.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, pada stadium 1B, rahim memang telah parah terinvasi kanker. Namun, yang perlu digarisbawahi: sel-sel kanker itu belum menyebar ke luar rahim. Artinya, operasi pengangkatan rahim masih efektif bila dilakukan.

Salah eorang aktris senior yang juga pejuang kanker, pun mengaku pernah menyarankan "Dia enggak mau diangkat rahimnya. Dia cuma dikemo sama diradiasi. Kemarin cuma operasi selang masukin perut, kan bukan operasi kanker,” Ujar Dia , dikutip dari citypost.id.

Aktris Senior ini sendiri termasuk yang berani mengambil sikap. Sejak divonis kena kanker pada tahun 2014, Dia sudah menjalani operasi pengangkatan rahim dan indung telur. Apa pertimbangan Dia ?

“Saya berani ambil keputusan angkat rahim biar menghambat perjalanan kanker yang saya idap jadi enggak menjalar. Saya pernah anjurin itu tapi dia enggak mau karena kalau rahimnya diangkat dia enggak bisa punya anak nantinya.”

Sang artis sendiri diketahui sempat bolak-balik Indonesia-Singapura untuk berobat. Ia memilih metode pengobatan menggunakan kemoterapi, radiasi, brachitherapy, hingga pemindahan ovarium—karena tak ingin sel telurnya rusak oleh radiasi. Prosedurnya mengambil sebagian indung telur perempuan sebelum kemoterapi atau radioterapi. Tujuannya untuk memastikan fungsi indung telur tidak rusak selama pengobatan.

Hasilnya? Seperti yang dikatakan , kemoterapi dan perawatan non bedah lainnya tidak sebaik tindakan bedah. Kalaupun sembuh, sel kanker serviks dapat muncul lagi. Dan itu benar-benar terjadi pada tahun 2016—padahal dia sempat menyatakan bebas kanker setahun sebelumnya. Bahkan, yang lebih mengerikan, stadium kanker serviks memasuki stadium 4. Pada stadium ini, sel kanker sudah menyebar ke berbagai organ tubuh yang lain, termasuk di luar bagian leher rahim. Tindakan operasi tidak efektif lagi.

Pentingnya Deteksi Dini
Dari pengalaman artis ini, kita belajar tentang pentingnya pendeteksian dini.

Salah satu survivor kanker serviks, pun punya cerita yang sama. Dilansir cdc.gov, sosok wanita pendiri Tamika & Friends ini didiagnosa terkena kanker serviks pada usia 25 tahun. Betapa kagetnya karena ia merasa sehat dan tengah asyik menikmati karir. Pun tidak ada tanda-tanda ia terkena penyakit itu.

Dokter lalu merekomendasikan untuk menjalani histerektomi. Sempat ragu, lalu membulatkan hati menjalani operasi angkat rahim. Betul, kalau rahimnya diangkat, ia tak akan bisa hamil. Tapi histerektomi dapat mencegah sel kankernya jadi ganas dan menyebar.

Setelah sembuh, Dia dan kawan-kawannya aktif mengedukasi masyarakat soal kanker. Menganjurkan para perempuan untuk memeriksakan diri sedini mungkin, tidak menunggu tanda-tanda sakit. Sebab, yang membahayakan dari kanker serviks adalah nihilnya gejala. Gejala sakit baru muncul saat kanker sudah terlambat dioperasi.

Deteksi dini ini direkomendasikan sekali terutama bagi wanita yang telah aktif secara seksual, tidak peduli usia dan waktunya. Hal ini disebabkan HPV—virus yang disebut sebagai “biang kerok” kanker serviks—paling sering tertular lewat hubungan seks. Apalagi bila sang perempuan atau lelaki sering bergonta-ganti pasangan. Potensi terkena kanker serviks semakin tinggi. Semakin cepat Anda mengetahuinya, semakin besar peluang untuk sembuh total.

Bagi Anda yang tertarik menjalani deteksi dini kanker serviks, bisa menghubungi RS Fatimah melalui telepon: 0877-7190-6867. Atau, mengunjungi langsung alamat kami: Jl. Raya Cilegon, Drangong, Taktakan, Kota Serang, Banten. 

 
Kategori: Blog
Tag: Serviks , Kanker , Wanita
Komentar pada artikel “KENA KANKER SERVIKS , PASTI MENINGGAL?”

Got something to say?

Kirim Komentar