JANGAN SAMPAI BALITA MENINGGAL KARENA CAMPAK


Maryam, putri Oki Setiana Dewi, harus dibawa ke rumah sakit. Awalnya, sang aktris Ketika Cinta Bertasbih hanya ingin merawat si sulung di rumah saja. Toh hanya demam. Namun, diagnosis dokter terlalu mengejutkan. Maryam terkena campak.

Boleh dibilang, Oki cukup beruntung. Pasalnya, Maryam masih bisa diselamatkan. Tidak seperti sejumlah balita di Desa Margamulya, Lebak, Banten, yang harus meninggal dunia. Kejadian yang terjadi di tahun 2004 ini sempat heboh karena tercatat 89 balita terkena campak. Sebagiannya hanya dirawat pihak keluarga di rumah. Tidak dibawa ke rumah sakit, tidak juga ke puskesmas.

Kenali Ciri-cirinya

Walau familiar di telinga, penyakit campak tidak bisa disepelekan. Mengingat penyakit ini termasuk dalam 1 dari 10 besar penyebab kematian balita terbanyak di Tanah Air. Oleh karenanya, penting bagi kita untuk mengenali tanda-tandanya dan segera mengambil tindakan. Jangan sampai terlambat!

Lalu, apa saja ciri-ciri utama penyakit ini?

Adanya bercak merah kecokelatan (ruam) di belakang telinga. Bercak ini lalu menyebar ke sekitar kepala, leher, hingga akhirnya ke sekujur tubuh. 

Selain bercak, gejala lainnya berupa mata yang memerah, membengkak, sekaligus sensitif dengan cahaya; radang tenggorokan; gangguan hidung berupa ingus atau tersumbat.

Seperti yang menimpa pada anak Oki, penderita akan mengalami demam tinggi. Muncul pula bercak-bercak berwarna putih keabu-abuan di bagian tenggorokan dan mulut. Pembengkakan kelenjar getah bening di leher. Batuk kering, diare, serta muntah-muntah.

Pada tahap lebih lanjut, bercak-bercak yang tadinya berukuran kecil akan membesar dan, akhirnya, menyatu.

Bila Anda menjumpai ciri-ciri tersebut, jangan menunggu lagi. Segera temui dokter untuk penanganan intensif.

Dalam dunia medis, rubeola atau campak merah diketahui dapat menular melalui percikan cairan yang keluar saat penderita bersin atau batuk. Siapa pun yang menghirup atau memegang benda yang terkena percikan cairan tersebut—lalu tangannya ditempelkan ke bagian mulut atau hidung, dapat menderita campak.

Kewaspadaan juga perlu ditingkatkan ketika penderita mengalami komplikasi atau infeksi. Tanda-tandanya antara lain: kesadaran menurun (sering mengantuk), gejala dehidrasi (jarang buang air kecil), batuk darah, kejang-kejang, sesak napas, nyeri pada dada—utamanya ketika bernapas, dan masih banyak lagi.

Pencegahan dan Pengobatan

Dasarnya, semua orang bisa terkena campak. Tapi kenap balitalah yang lebih sering diincar penyakit ini? Mungkin karena balita belum memiliki sistem kekebalan yang cukup kuat. Itulah sebabnya vaksinasi dibutuhkan. Sebagaimana kita ketahui bersama, vaksinasi adalah pemberian imunitas tanpa harus terlebih dahulu menderita penyakit.

“Vaksin campak,” tegas dr. Bonita Effendi, BMedSc, sebagaimana dikutip kumparan.com, “penting bagi anak. Karena saat lahir tubuh belum memiliki pertahanan tubuh yang terbentuk untuk melawan virus. Jika belum tervaksin maka bisa jadi manifestasinya (efek yang terjadi pada tubuh seperti ruam, demam, infeksi saluran nafas) lebih berat dibandingkan dengan yang sudah tervaksin.” Kala terjadi komplikasi, tambah dr. Bonita, risikonya bisa lebih berat dibanding yang tidak divaksin.

Ada dua pilihan vaksinasi yang bisa Anda ambil. Satu, vaksin khusus campak—yang mana masuk dalam daftar imunisasi wajib yang ditetapkan pemerintah. Dua, vaksinasi measles mumps rubella—biasa dikenal dengan nama MMR.

Untuk vaksin khusus campak, pemberiannya dilakukan pada usia 9 bulan, 2 tahun, dan 6 tahun. Sedangkan untuk vaksin MMR diberikan dua kali, yakni pada usia 12-13 bulan, berlanjut pada usia 3-5 tahun.

Untuk perawatan balita yang terkena campak, pastikan untuk memberi banyak air putih. Hal ini berguna untuk mencegah dehidrasi, melegakan tenggorokan yang gatal, sekaligus memenuhi kebutuhan cairan tubuh saat demam.

Untuk menurunkan panas, Anda juga bisa memberikan parasetamol dalam bentuk cair atau ibuprofen—tapi hindari aspirin untuk penderita yang belum mencapai 16 tahun.

Untuk membersihkan kotoran mata selama pengobatan campak, gunakan kain katun yang telah direndam air bersih. Hindari sinar matahari dari pandangan, tutup tirai jendela, gunakan lampu yang lebih redup kala malam tiba. Sedangkan untuk meringankan gangguan hidung, lakukan terapi menghirup uap.

Mandikan anak dengan air hangat. Berikan jeruk limun dan madu yang dicampur dalam air hangat. Namun, pastikan anak berusia di atas satu tahun untuk penggunaan madu. 

yuk konsultasikan dengan kami, mengenai penyakit campak dengan dokter spesialis anak .
Hubungi : ü  0254 7913678 atau 087771906867 ( Telepon / Chat On WhatsApp)
Kunjungi Alamat Kami : Jalan Raya Cilegon Km. 3,5, Drangong, Taktakan, Drangong, Taktakan, Kota Serang, Banten 42162

Kategori: Blog
Tag: Bayi
Komentar pada artikel “JANGAN SAMPAI BALITA MENINGGAL KARENA CAMPAK”

Got something to say?

Kirim Komentar