GAGAL FOKUS SOAL IMUNISASI ??

GAGAL FOKUS SOAL IMUNISASI ??

Sebelum era jejaring sosial, pelaksanaan imunisasi di Indonesia jauh dari rusuh. Pemerintah cukup mengimbau, masyarakat berbondong pergi ke puskesmas, menunggu antrian, suntik, lalu pulang. Semua lancar tanpa hambatan.

Namun sekarang, situasinya sudah berubah. Kehadiran Facebook dan kawan-kawannya membuat persoalan tak sesimpel dulu. Ada banyak tantangan di era keterbukaan informasi, di mana isu mudah sekali tersebar—walau tanpa bukti yang valid. Entah itu positif atau negatif. Di satu sisi, ini hal bagus, karena proses mengedukasi masyarakat jadi lebih mudah. Namun di sisi lain, juga mengkhawatirkan bila masyarakat lebih percaya pada kabar burung ketimbang penjelasan para dokter. Termasuk dalam hal ini omongan-omongan miring seputar imunisasi.


Sejarah Imunisasi di Nusantara

Agar tak salah kaprah soal imunisasi, ada baiknya kita menengok sejarah imunisasi masuk ke Indonesia. Kira-kira sebelas tahun setelah kemerdekaan, tepatnya tahun 1956, imunisasi pertama kali diperkenalkan di Tanah Air. Saat itu, imunisasi yang diberikan terkait penyakit cacar. Berkat program ini, World Health Organization (WHO) pun menetapkan negara kita bebas penyakit cacar. Melanjutkan pencapaiannya, masih di tahun yang sama, Indonesia lalu ambil bagian dalam program imunisasi BCG (Bacillus Calmette-Guérin). Imunisasi jenis ini dimaksudkan untuk melindungi bayi dari tuberkulosis atau lebih populer dengan nama TBC. Infeksi TBC sendiri sangat berbahaya lantaran dapat menyerang selaput otak, ginjal, tulang dan sendi.

Kira-kira 18 tahun berikutnya, tepatnya tahun 1974, Indonesia kembali mengadakan program imunisasi. Kali ini fokus pada vaksin Texanus Toxoid (TT) untuk ibu hamil. Sesuai namanya, imunisasi ini berguna untuk melindungi ibu hamil dan kandungannya dari penyakit tetanus, juga mencegah bayi—yang nanti lahir—dari terjangkit tetanus neonatal. Penyakit ini tidak bisa disepelekan karena dapat memengaruhi sistem saraf yang bersangkutan. Dua tahun setelahnya, Indonesia mulai mengembangkan imunisasi DPT atau difteri, pertusis, dan tetanus. Vaksin ini dianggap wajib disuntikkan pada balita mengingat difteri, pertusis, dan tetanus adalah tiga penyakit dengan risiko tinggi, alias dapat mengakibatkan kematian. Program ini dimulai dari beberapa kecamatan di Pulau Bangka, Kepulauan Bangka Belitung.

Setahun berselang, yakni 1977, pemerintah memperluas imunisasi menjadi Program Pengembangan Imunisasi (PPI). Tujuannya mencegah sejumlah PD3I (Penyakit Yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi), seperti polio dan campak. Hal ini dibuktikan pada tahun 1980, di mana pemerintah menggalakkan imunisasi polio. Polio sendiri dikenal sebagai penyakit menular yang disebabkan oleh virus. Virus polio diketahui merusak saraf motorik, menyerang sistem saraf pusat, yang pada akhirnya melumpuhkan otot penderitanya.

Tak cepat berpuas diri, pemerintah lalu menggalakkan imunisasi hepatitis B tahun 1992. Penyakit hati yang disebabkan virus ini dikenal berbahaya, karena bisa mengakibatkan peradangan hati, bahkan kanker bila dibiarkan. Setelah mendapat sambutan hangat dari masyarakat, pemerintah pun menyelenggarakan Pekan Imunisasi Nasional (PIN) selama tiga tahun berturut-turut, dimulai dari tahun 1995.

Dengan seluruh pencapaian ini, Indonesia pun dianggap berhasil menyelamatkan ratusan ribu anak dari kecacatan dan jutaan dari kematian. Cakupan imunisasi sempat mencapai 90 persen, menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara “rujukan” dalam penerapan imunisasi. Menghindari “Bencana” Nasional, Tak berlebihan bila imunisasi digelari sebagai terobosan, sumbangan ilmu pengetahuan terbaik—menurut Katz (1999)—oleh para ilmuwan dunia. Kenapa?

Umumnya, tubuh manusia mengenal dua cara mendapat kekebalan. Satu, kekebalan tubuh aktif. Dua, kekebalan tubuh pasif. Kekebalan tubuh aktif dihasilkan tubuh manusia secara alami, menetap lama atau bahkan seumur hidup. Hanya saja, imunitas semacam ini “mewajibkan” semua orang untuk menderita sakit terlebih dahulu, sebelum akhirnya tubuh meramu antibodinya sendiri. Ini yang disebut “memori kekebalan.” Sedangkan kekebalan tubuh pasif adalah pemberian memori kekebalan untuk suatu jenis penyakit tanpa harus menderita sakit yang sama. Konsep imunisasi inilah yang kemudian dianggap cost effective, karena biayanya jauh lebih murah, sedangkan manfaatnya besar.

Tentu saja, berbahaya bila masyarakat “diharuskan” menderita seluruh penyakit terlebih dahulu untuk memiliki memori kekebalan. Apalagi penyakit-penyakit yang dicegah imunisasi adalah penyakit-penyakit menular dengan konsekuensi kehilangan nyawa. Dengan kata lain, ini bukan hanya soal kecenderungan menyelamatkan satu orang, tapi masyarakat pada umumnya. Jika penyakit-penyakit PD3I dibiarkan bebas berjangkit, bukan hanya satu-dua orang saja yang terkena. Pemerintah pun menghadapi masalah kesehatan yang serius dan berpotensi jadi “bencana” nasional.

Selalu ingat bahwa tujuan utama imunisasi adalah menciptakan population immunity, yakni kekebalan masyarakat, yang tinggi. Dengan begitu, semua penyakit yang terkategori PD3I bisa dikendalikan, kalau bisa dihilangkan. Dari aspek inilah kita perlu melihat persoalan imunisasi, mengingat ada bahaya yang lebih besar jika masyarakat enggan ambil bagian.

Info seputar pelayanan Imunisasi Rumah Sakit Fatimah
silahkan hub Customer service kita di : 087771906867
atau kunjungi alamat kita di : Jl. Raya serang Cilegon Km.3,5 Kel. Drangong Kec. Taktakan , Kota Serang - Banten Kode pos 42162 

 
Kategori: Blog
Tag: Bayi , Imunisasi
Komentar pada artikel “GAGAL FOKUS SOAL IMUNISASI ??”

Got something to say?

Kirim Komentar