Sindrom Ini Picu Stroke, Diabetes, Dan Serangan Jantung Sekaligus

serang

Pernah mendengar istilah Sindrom Metabolik? 

Sederhananya, sindrom metabolik merupakan kondisi ketika seseorang mengalami peningkatan
tekanan darah, kadar gula darah tinggi, kelebihan lemak di sekitar pinggang,
dan kadar kolesterol tidak normal yang seluruhnya terjadi secara bersamaan.
Penderita yang hanya memiliki salah satu kondisi tidak
dikatakan terkena sindrom metabolik. Namun, cukup dengan satu kondisi, mampu
meningkatkan risiko terserang penyakit serius, seperti penyakit jantung,
stroke, dan diabetes. Apabila penderita mengalami lebih dari satu kondisi,
tentu risikonya pun menjadi lebih besar.

Sindrom metabolik biasanya terjadi pada orang lanjut usia,
tetapi tidak menutup kemungkinan terjadi pula pada anak-anak dan orang muda.
Anda dapat mencegah serta melakukan penanganan cepat terhadap penyakit ini
untuk mengurangi faktor risiko yang kelak muncul.


TAK PUNYA GEJALA TERTENTU

Sindrom metabolik tidak memiliki gejala tertentu. Sebab gangguan seperti tekanan darah tinggi, gula darah tinggi, dan kolesterol darah tinggi tidak menunjukkan gejala yang jelas. Jadi cara termudah untuk mengetahui apakah Anda terkena sindrom metabolik ialah berkonsultasi dengan dokter. Pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter biasanya meliputi:

  •  Peningkatan tekanan darah, yang berarti kadar tekanan darah berkisar di angka 140/90 mmHg atau lebih.
  • Kadar gula darah tinggi, dengan hasil tes glukosa darah puasa sebesar 100 mg/dL atau lebih.
  • Kolesterol tinggi, dengan tingkat lemak darah (trigliserida) berjumlah 150 mg/dL atau lebih.
  • Kadar kolesterol baik (HDL) yang rendah, yaitu kurang dari 40 mg/dL bagi laki-laki atau 50 mg/dLuntuk perempuan.
  • Rentan mengalami peradangan, seperti pembengkakan dan iritasi.

 

Selain diabetes, peningkatan insulin juga dapat menyebabkan peningkatan kadar lemak darah atau kolesterol. Hal itutentu mengganggu kinerja ginjal, sehingga menimbulkan tekanan darah tinggi. Efek gabungan dari resistensi insulin ini dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke. Resistensi insulin mungkin ditimbulkan dari berbagai faktor genetik dan lingkungan.Beberapa orang secara genetik cenderung rentan terhadap resistensi insulin, mereka mewarisi kecenderungan tersebut dari orangtua.Namun, kelebihan berat badan biasanya merupakan kontributor utama. Pada dasarnya, faktor risiko yang memunculkan sindrom metabolik adalah kadar kolestrol yang melebihi normal, tekanan darah tinggi, kadar gula darah yang tinggi, dan kelebihan lemak perut. Tetapi ada beberapa faktor lain yang turut meningkatkan risiko sindrom metabolik. Beberapa faktor risiko ini dapat dikontrol,sebagian lainnya berada di luar kendali.Seseorang mungkin memiliki risiko lebih tinggi terkena sindrom metabolik jika:

  • Usia. Risiko sindrom metabolik meningkat seiring pertumbuhan usia. Mulai dari 10% di usia 20 tahun-an, 20% di usia 40 tahun-an, 35% di usia 50 tahun-an, 45% di tahun 60 tahun-an dan seterusnya.
  • Kondisi medis lain. Riwayat penyakit obesitas, kardiovaskular, penyakit hati nonalkoholik, atau sindrom ovarium polikistik juga bisa meningkatkan risiko sindrom metabolik.
  • Sindrom metabolik dalam keluarga. Seseorang lebih mungkin memiliki sindrom metabolik jika memiliki riwayat keluarga dengan diabetes tipe 2 ataupun riwayat diabetes selama kehamilan (gestational diabetes).
  • Ras. Ras Hispanik dan Asia Selatan tampaknya berada pada risiko yang lebih besar dibandingkan ras lainnya dalam hal peningkatan resistensi insulin.


CEGAH DENGANN GAYA HIDUP

Menangani salah satu faktor risiko dari sindrom metabolik cukup sulit dilakukan. Meski demikian, kombinasi dari penerapan gaya hidup sehatdan penggunaan obat-obatan yang disarankan dokter mampu mengurangi risiko sindrom metabolik. Lebih banyak melakukan aktivitas fisik, mengurangi berat badan,hingga berhenti merokok akan sangat membantu menurunkan tekanan darah, kolesterol, dan kadar gula dalam darah.

 

Beberapa aktivitas di bawah ini bukan hanya terbukti menurunkan risiko terkena sindrom metabolik, tetapi juga mencegah Anda dari kondisi medis lainnya:

  • Olahraga. Dokter biasanya merekomendasikan untuk berolahraga selama 30 sampai 60 menit setiap hari dengan intensitas sedang, seperti jalan cepat.
  • Menurunkan berat badan. Mengurangi 5 sampai 10 persen dari berat badan dapat menurunkan kadar insulin, tekanan darah, dan mengurangi risiko diabetes.
  • Makan sehat. Perbanyaklah memakan buah dan sayuran. Pilihlah (potongan kecil) daging putih atau ikan dibandingkan daging merah.Hindari makanan olahan atau goreng-gorengan. Hilangkan konsumsi garam meja dan bereksperimenlah dengan bumbu atau rempah-rempah lainnya.
  • Perbanyak serat. Anda jugadapat menyertakan biji-bijian dan kacang-kacangan dalam santapan sehari-hari. Makanan-makanan tersebut memiliki kandungan serat yang dapat menurunkan tingkat insulin.
  • Berhenti merokok. Merokok akan meningkatkan resistensi insulin dan memperburuk dampak dari sindrom metabolik. Konsultasikan dengan dokter jika memerlukan bantuan untuk menghentikan kebiasaan merokok.
  • Dokter mungkin meresepkan obat penurun kolesterol dan obat-obatan lain, seperti lovastatin, pravastatin, simvastatin, atorvastatin, atau rosuvastatin.
  • Periksakan tekanan darah, kolesterol dan kadar gula darah secara rutin. Buatlah modifikasi gaya hidup sehat tambahan jika tindakan pencegahan di atas kurang efektif.

Salah satu penelitian yang dipublikasikan dalam Annals of Internal Medicine pada tahun 2005 menunjukkan bagaimana perubahan gaya hidup mampu mencegah sindrom metabolik. Para peneliti mengamati lebih dari 3.200 orang yang sudah memiliki gangguan kadar gula. Kemudian satu kelompok diperintahkan untuk melakukan perubahan gaya hidup. Kelompok tersebut dieksekusi 2.5 jam seminggu dan makan rendah kalori.

Setelah tiga tahun, orang dalam kelompok ini memiliki 41% lebih kecil kemungkinan untuk mengalami sindrom metabolik dibandingkan dengan mereka yang tidak melakukan perubahan gaya hidup. Penerapangaya hidup sehat juga dua kali lebih efektif dalam menurunkan gula darah dengan kombinasiobat diabetes Glucophage.

Komentar pada artikel “Sindrom Ini Picu Stroke, Diabetes, Dan Serangan Jantung Sekaligus”

Got something to say?

Kirim Komentar