KENALAN DENGAN DARAH TINGGI, SANG SILENT KILLER

KENALAN DENGAN DARAH TINGGI, SANG SILENT KILLER

Kenapa dijuluki demikian? Karena darah tinggi sering kali menyerang para penderita “diam-diam.” Tiba-tiba tekanan darah pada dinding arteri (pembuluh darah bersih) meningkat. Kemudian bertambah kronis sehingga mengakibatkan hipertensi atau tekanan darah tinggi.

Hipertensi telah menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Sebab banyak masyarakat yang tidak menyadari dirinya terkena hipertensi. Mereka tidak terdiagnosis oleh tenaga kesehatan dan tidak menjalani pengobatan yang seharusnya. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kemenkes RI tahun 2013 bahkan menunjukkan setidaknyalebih dari 25 persen penduduk Indonesia mengidap hipertensi. Laporan Survei Indikator Kesehatan Nasional (Sirkesnas) menunjukkan jumlah pengidapnya meningkat jadi 32,4 persen. Jumlah pasti di dunia nyata mungkin lebih tinggi,karena banyak orang yang tidak menyadari mereka memiliki tekanan darah tinggi.

Risiko Mengidap Hipertensi

Seperti disebutkan sebelumnya, hampir tidak ada orang yang menyadari kehadiran hipertensi. Namun apabila tekanan darah sudah sangat tinggi, mungkin akan ada beberapa gejala tertentu yang muncul, misalnya sakit kepala parah, mudah lelah, sering bingung, nyeri dada, denyut jantung tidak teratur, sulit bernapas, serta dada, leher, dan telinga kerap berdebar.

Biasanya penglihatan pun akan terganggu jika komplikasi hipertensi sampai ke retina mata. Selain itu, adanya darah dalam urin juga menunjukkan gejala hipertensi. Hal itu berarti telah terjadi komplikasi hipertensi pada ginjal. Jika gejala-gejala tersebut telah tampak, segera periksa ke dokter. Tekanan darah yang tidak terkontrol dapat menyebabkan penyakit serius, termasukstroke, penyakit jantung, gagal ginjal, dan kegagalan organ lainnya.

Penyebab munculnya tekanan darah tinggi sulit dipastikan. Seiring bertambahnya usia, risiko terkena hipertensi biasanya semakin tinggi. Tetapi usia bukanlah faktor utama. Meski penyebabnya sukar dideteksi, ada beberapa faktor pemicu hipertensi yang dipengaruhi oleh gaya dan pola hidup.

Contohnya, merokok. 

Merokok satu batang saja mampu melonjakkan kadar tekanan darah sebanyak 4 mmHG. Hal ini karena nikotin dalam rokok memacu sistem saraf untuk melepaskan zat kimia yang dapat menyempitkan pembuluh darah. Bagaimana jika merokok satu bungkus per hari?

Risiko tekanan darah tinggi juga bisa meningkat akibat pola makan yang tidak sehat. Di antaranya kebanyakan makan makanan asin, hidangan mengandung natrium (makanan olahan, makanan kalengan, fast food), dan makanan atau minuman yang mengandung pemanis buatan.

Tidak hanya itu, hipertensi dapat muncul pula sebagai efek samping obat gagal ginjal dan perawatan penyakit jantung. Pil KB atau obat flu yang dijual di toko obat juga bisa menyebabkan tekanan darah tinggi. Wanita hamil atau yang menggunakan terapi pengganti hormon pun memiliki risiko yang sama.

Tekanan darah tinggi akibat efek samping obat mungkin kembali normal setelah berhenti meminumnya.Namun dalam beberapa kasus, tekanan darah masih meningkat selama beberapa minggu setelah menghentikan penggunaan obat. Jika terus terjadi, segeralah bertanya pada dokter.

Selain faktor di atas, hipertensi juga dapat dipicu oleh beberapa hal lain, seperti: usia menginjak di atas 65 tahun, mengonsumsi banyak garam, kelebihan berat badan, memiliki keluarga yang juga terkena hipertensi, kurang makan buah dan sayuran, jarang olahraga, terlalu banyak meminum kafein, serta sering mengonsumsi minuman keras.

Urgensi Mengukur Tekanan Darah

Karena gejala hipertensi sulit diprediksi, cara termudah untuk mendeteksi penyakit ini adalah dengan mengukur tekanan darah. Tekanan darah dihitung melalui ukuran merkuri per milimeter (mmHG) dan dicatat dalam dua bilangan, yaitu sistolik dan diastolik. Tekanan sistolik adalah tekanan darah saat jantung berdetak memompa darah keluar (fase kontraksi). Sedangkan tekanan diastolik merupakan tekanan darah saat jantung tidak berkontraksi (fase relaksasi).

Apabila tekanan darah Anda 130 per 90 atau 130/90 mmHG, berarti Anda memiliki tekanan sistolik 130 mmHg dan tekanan diastolik 90 mmHg. Angka normal tekanan darah adalah yang berada di bawah 120/80 mmHG. Anda akan dianggap mengidap hipertensi atau tekanan darah tinggi bila hasil dari beberapa kali pemeriksaan menunjukkan tekanan darah Anda tetap pada angka 140/90 mmHg atau lebih tinggi.

Meski pengukuran tekanan darah dapat dilakukan di rumah, perlu dipahami juga bahwa hasil bacaan tekanan darah di dokter dan di rumah bisa berbeda. Apabila Anda merasa gugup saat berada di rumah sakit, tekanan darah dapat naik sehingga hasil yang terlihat pun menunjukkan tekanan darah Anda umumnya tinggi. Fenomena ini disebut “white coat hypertension.” Oleh karena itu, dokter biasanya mengukur tekanan darah Anda lebih dari satu kali dan jauh dari ruang praktik. Untuk memastikan apakah Anda mengalami fenomena tersebut atau benar-benar terkena hipertensi, penting untuk memeriksa tekanan darah setidaknya setiap enam sampai dua belas bulan. Rentang waktu ini juga memberi kesempatanbagi Anda untuk mengubah gaya hidup.

Bagaimana Mengobati Penyakit ini?

Bila ditanya apakah hipertensi bisa sembuh, jawabannya mungkin saja. Tapi bukan sembuh total. Pasalnya, hipertensi bukanlah penyakit yang berdiri sendiri. Hipertensi bisa disebabkan oleh penyakit lain, seperti penyakit jantung atau ginjal. Jika demikian, hipertensi dapat disembuhkan dengan cara mengobati akar penyebabnya. Mengobati penyakit yang melatarbelakangi munculnya tekanan darah tinggi.

Namun pada sebagian besar kasus, munculnya hipertensi justru dipengaruhi oleh keturunan (genetik) atau pola hidup atau lingkungan yang tidak sehat. Biasanya dokter akan menyarankan obat-obatan tertentu untuk menurunkan dan mengontrol kadar tekanan darah. Di antaranya:

  • Kalsium Channel Blocker : yaitu obat yang digunakan untuk menurunkan tekanan darah. Obat ini akan memperlambat gerakan kalsium ke dalam sel jantung dan dinding pembuluh darah, sehingga jantung lebih mudah memompa dan memperlebar pembuluh darah.
  • Angiotensin Converting Enzyme(ACE) Inhibitor : yaitu obat yang akan memperlebar pembuluh darah sehingga meningkatkan jumlah darah yang dipompa jantung dan pada akhirnya menurunkan tekanan darah.
  • Angiotensin II Receptor Blockers (ARB): obat ini memiliki efek yang sama seperti ACE inhibitor, tetapi bekerja dengan mekanisme yang berbeda.
  • Diuretik : Diuretik umumnya dikenal sebagai “pil air,” membantu tubuh untuk menyingkirkan air dan garam yang tidak dibutuhkan melalui urin. Menyingkirkan kelebihan garam dan cairan akan membantu menurunkan tekanan darah dan dapat membuat jantung memompa darah lebih ringan.
  • Beta-Blockers : yaitu obat yang digunakan untuk mengobati tekanan darah tinggi dengan cara memblokir efek dari sistem saraf simpatik pada jantung.
  • Omega-3 suplemen minyak ikan: Dalam 10 tahun terakhir, banyak warga Amerika telah berpaling ke suplemen minyak ikan omega-3. Diet suplemen ikan dan minyak ikan memiliki manfaat bagi orang sehat dan juga orang-orang dengan penyakit jantung.

Obat-obatan di atas juga harus dikombinasikan dengan pola hidup yang sehat. Terutama bagi Anda yang masih muda atau belum terkena hipertensi. Mencegah hipertensi lebih mudah dan murah dibandingkan dengan pengobatannya.

Beberapa hal yang bisa dilakukan, antara lain sering mengonsumsi makanan sehat, mengurangi konsumsi garam dan kafein, berhenti merokok, berolahraga secara teratur, menurunkan berat badan jika perlu, dn berhenti konsumsi minuman keras. Selain itu, aturlah pikiran Anda agar tidak terlalu sering stres. Cobalah latihan bernapas dalam perut setiap hari, relaksasikan otot di tengah pekerjaan, atau lakukan kegiatan lain untuk mengontrol emosi Anda.

 
Kategori: Blog
Tag: Darah Tinggi , Penyakit Dalam
Komentar pada artikel “KENALAN DENGAN DARAH TINGGI, SANG SILENT KILLER”

Got something to say?

Kirim Komentar